Kisah Seorang Pria dari Bani Israil Bernama Juraij

 


    Saat Juraij sedang shalat, ibunya datang memanggil. Dalam hatinya, Juraij berkata, ‘Apakah menjawab ibuku atau aku tetap shalat?’ Maka ibunya pun berdoa, ‘Ya Allah, jangan matikan dia sebelum melihat wajah wanita pezina.’ Kala itu Juraij sedang berada di tempat ibadahnya. Suatu ketika, seorang wanita menawarkan dirinya. Ia mencoba menggoda. Namun, Juraij menolaknya. Akhirnya, wanita itu tidur dengan seorang pengembala kambing dan melampiaskan nafsu dengannya. Lahirlah seorang bayi. Saat ditanya bayi itu dari siapa, sang wanita pun menjawab, ‘Dari Juraij.’ Akibatnya, orang-orang pun mendatangi Juraij dan menghancurkan tempat ibadahnya. Mereka memerintah Juraij turun dan mencaci makinya. Melihat demikian, Juraij pun mengambil wudhu lalu shalat. Usai shalat, ia menemui sang bayi lantas bertanya, ‘Siapakah ayahmu, hai bayi?’ Tak dikira, bayi pun bisa menjawab, ‘Pengambala kambing.’ Karena merasa salah tuduh, orang-orang Bani Israil berkata kepada Juraij, ‘Kami akan membangun tempat ibadahmu lagi dari emas.’ Namun, Juraij menolak, ‘Jangan, dari tanah saja.’” Dalam riwayat lain disebutkan, sang ibu datang menemui Juraij hingga tiga kali. Setiap kali datang dan memanggilnya, Juraij pasti sedang shalat dan beribadah. Alih-alih menjawab panggilan sang ibu, Juraij meneruskan shalatnya. Padahal, jika ibunya memanggil, Juraij mestinya menghentikan dahulu shalatnya. Sebab, menjawab panggilan ibu lebih utama daripada shalat sunat. Kendati shalatnya wajib, maka Juraij boleh mempersingkat shalat itu agar bisa menjawab panggilan ibunya. Namun, ia lebih mementingkan shalatnya ketimbang menjawab sang ibu. Sepertinya, Juraij telah merasakan bagaimana manis dan lezatnya bermunajat. Hingga ia tak mau melepaskan shalat untuk perkara apa pun. Pada hari kedua dan hari ketiganya, ibunda Juraij kembali mendatanginya. Namun, hasilnya sama seperti hari pertama. Hal itu membuat sang ibu kesal pada Juraij. Akhirnya, ia berdoa sesuatu yang kurang baik kepada Allah dan doanya terkabulkan.  Seperti dikabarkan Rasulullah saw, walaupun doa yang dipanjatkan seorang ibu kepada anaknya kurang baik, tetapi ia akan terkabulkan. Sebab, ketika Allah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi. Apa pun sebabnya. Saat itu pun Allah menciptakan sebabnya dengan mengirim seorang wanita pezina untuk menggoda Juraij. Cara itu diciptakan karena orang-orang Bani Israil selalu membicarakan kesalehan dan ibadah Juraij. Sang wanita ingin menghancurkan kasalehan dan ketakwaannya. Ia mengira jika dirinya menggoda Juraij, pasti Juraij akan tergoda. Akibatnya, harga dirinya terjatuh seperti juga yang dialami orang saleh yang lain. Ia menggoda Juraij dengan nafsu dan kecantikannya. Hadits yang lain menggambarkan bagaimana keindahan dan kecantikan wanita itu. Meski terus digoda wanita cantik, Juraij tak menoleh sedikit pun. Ia tetap tak tergoda. Ia asyik dalam shalat dan ibadahnya. Seakan-akan ia tak melihat wanita itu. Tidak pula ingin menyaksikannya. Akhirnya, si wanita melampiaskan nafsunya dengan seorang pengembala kambing dan hamil hingga melahirkan seorang bayi. Di sana Allah hendak menunjukkan kebesaran dan kekuasan-Nya. Bayi yang ditanya Juraij bisa menjawab dengan suara jelas dan bisa dipahami. “Ayahku adalah penggembala kambing,” ucapnya. Dari jawaban itu, orang-orang pun tahu betapa besarnya kejahatan yang dilakukan sang wanita terhadap Juraij, seorang hamba yang saleh dan ahli ibadah. Ternyata Juraij tidak seperti yang mereka kira. Ia bukan orang yang riya dan menipu. Ia bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sementara wanita itu adalah pembohong ulung yang telah menuduh keji kepada Juraij. Mereka sadar terlalu terburu-buru membenarkan tuduhan itu. Gegabah telah melukai perasaan Juraij dan mengancurkan bangunan tapanya. Mereka pun ingin menebus apa yang telah mereka lakukan. Karenanya, mereka menawarkan kepada Juraij untuk membangun kembali pertapaannya dengan emas atau perak. Tapi Juraij menolak tawaran itu. Ia memilih membangunnya kembali dari tanah seperti semula.  Allah pun mengabulkan doa ibunda Juraij. Dia mewujudkan keinginannya. Pada saat yang sama, Allah pun menyelamatkan Juraij berkat kesalahan dan ketakwaannya.

Penelitian Emik dan Etik

 


Perbedaan penelitian etik dan penelitian emik terletak pada sudut pandang yang digunakan untuk memahami suatu budaya, masyarakat, atau fenomena sosial.

AspekPendekatan EmikPendekatan Etik
Sudut pandangDari dalam (perspektif anggota masyarakat yang diteliti)Dari luar (perspektif peneliti)
TujuanMemahami makna, nilai, dan keyakinan menurut pelakuMenganalisis fenomena menggunakan konsep atau teori ilmiah
FokusPengalaman dan interpretasi masyarakat setempatPerbandingan, penjelasan, dan generalisasi antarbudaya atau antarkelompok
Peran penelitiBerusaha memahami cara berpikir informanMenafsirkan data berdasarkan kerangka teori yang digunakan
Contoh metodeWawancara mendalam, observasi partisipan, etnografiSurvei, analisis statistik, penggunaan kategori yang telah ditentukan

Contoh

Misalnya, seorang peneliti ingin mempelajari tradisi selamatan di sebuah desa.

  • Pendekatan emik: Peneliti bertanya kepada warga mengapa mereka melakukan selamatan, apa makna ritual tersebut, dan bagaimana mereka memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya menggambarkan pemahaman dari sudut pandang masyarakat itu sendiri.
  • Pendekatan etik: Peneliti menganalisis selamatan menggunakan teori antropologi atau sosiologi, misalnya sebagai bentuk integrasi sosial, penguatan solidaritas kelompok, atau mekanisme kontrol sosial. Analisis berasal dari kerangka ilmiah peneliti.

Kelebihan dan kekurangan

Pendekatan emik

  • Kelebihan:
    • Menghasilkan pemahaman yang mendalam dan sesuai dengan perspektif masyarakat.
    • Mengurangi risiko salah menafsirkan makna budaya.
  • Kekurangan:
    • Sulit digeneralisasikan ke kelompok lain.
    • Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membangun kepercayaan dengan informan.

Pendekatan etik

  • Kelebihan:
    • Memudahkan perbandingan antarbudaya atau antarkelompok.
    • Mendukung penyusunan teori dan generalisasi ilmiah.
  • Kekurangan:
    • Berisiko mengabaikan makna yang dipahami oleh masyarakat setempat.
    • Kategori analisis peneliti belum tentu sesuai dengan cara pandang masyarakat yang diteliti.

Kesimpulan

  • Emik = melihat fenomena dari sudut pandang orang dalam (insider), berfokus pada makna menurut masyarakat yang diteliti.
  • Etik = melihat fenomena dari sudut pandang orang luar (outsider), menggunakan konsep dan teori ilmiah untuk menganalisis serta membandingkan fenomena.

Dalam penelitian kualitatif, khususnya etnografi, kedua pendekatan ini sering dipadukan agar hasil penelitian tidak hanya mencerminkan pemahaman masyarakat, tetapi juga memberikan analisis ilmiah yang dapat dibandingkan dengan penelitian lain.

Pengorbanan Seorang Anak (Sayyid Iskandar) Kepada Ibunya

 Kisah Sayyid Iskandar Basyaiban Rela Dihukum Mati Untuk Selamatkan Ibunya

Sayyid Iskandar bin Sayyid Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban, yang sebagian jasadnya di makamkan di komplek pemakaman Sunan Bungkul ini mempunyai 5 bersaudara yakni:
1. Sayyid Imam Ghazali (Tawunan, Surabaya),
2. Sayyid Ibrahim (Kota Pasuruan),
3. Sayyid Badrudin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan, Surabaya),
4. Sayyid Abdullah (Bangkalan, Madura),
5. Sayyid Ali Ashghar (Sidoresmo).
Dari jalur nenek buyutnya beliau masih keturunan Raden Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati - Cirebon).
Sedangkan dari jalur ayah dan kakek buyutnya beliau masih keturunan Sayyid Abdurrahman bin Sayyid Umar bin Sayid Muhammad bin Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
Basyaiban adalah gelar warga Habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, (seorang Ulama terkemuka di Tarim, Hadramaut - Yaman, sebuah perkampungan yang masyhur sebagai gudangnya para wali dan auliya' Allah)
Diantara putra-putra Sayyid Ali Akbar, Sayyid Iskandarlah yang paling unik perjalanan hidupnya. beliau sangat sayang pada ibundanya hingga nyawa sebagai taruhan demi ibundanya.
Setelah kelahiran adik beliau yaitu Sayyid Ali Ashghor, beliau meneruskan perjuangannya dalam melawan penjajahan Belanda. seperti ayahandanya yang dulu yakni sangat merepotkan pihak kolonial Belanda, Sayyid Iskandar pun juga tak kalah merepotkan mereka. Beliau itu orangnya tinggi besar berkulit putih dan penyabar sesungguhnya. Tak banyak bicara, sangat ‘alim, zuhud dan wara’. Terkenal dengan ahli ilmu alat (nahwu, sharaf). berwajah Jawa-Arab. Namun meski penyabar, jika sudah berhadapan dengan penjajah Belanda yang dholim, maka tak ada ampun lagi. Beliau lebih suka melawan Belanda tanpa harus melibatkan keluarganya.
Tidak saudaranya juga tidak para santri-santrinya yang berada di Ndresmo. Beliau selalu tahu kapan ada rombongan Belanda yang akan melewati jalan yang beliau kuasai. Maka tak pernah ada satu orang Belanda pun kala itu yang bisa menghadapi beliau. Senjata apapun yang dibuat melawan beliau hampir dipastikan tak ada artinya.
Ada kelebihan dari beliau yang sudah bukan rahasia lagi. Beliau sangat cepat dalam bergerak. Jika orang biasa menempuh perjalanan dengan sejam, maka beliau sampai dalam waktu sangat sebentar. Beliau pernah membuat mata para Belanda tak bisa melihat pesantren ayahandanya yang ada di Ndresmo. Seakan pesantren itu hilang dan musnah.
Ada lagi yang beliau punya yaitu ilmu semacam rawerontek (bila tubuhnya dipotong maka kembali nyambung lagi). Nah jadi hanya seorang Sayyid Iskandar saja, sudah membuat para tentara Belanda kalang kabut. Kalaupun tertangkap, itu hanya semata-mata unsur kesengajaan dari beliau sendiri agar bisa semakin banyak yang beliau hadapi, dan itupun sudah menjadi strategi perang gerilya beliau untuk membantu mempermudah penyerangan para pejuang lain seperti pamannya Sayyid Baqer.
Meski banyak hal dan tugas yang beliau hadapi, namun beliau masih sering menyempatkan diri untuk pulang ke rumah yang saat itu ibundanya masih di Sidoarjo bersama adik paling kecilnya Sayyid Ali Ashghor. beliau dengan telaten ikut membantu ibundanya dalam mendidik Sayyid Ali Ashghor dalam hal ilmu agamanya. Jika sudah selesai, maka beliau berjuang lagi seperti biasanya. beliau jarang ke desanya sendiri, Ndresmo. Itu semata-mata agar desa suci itu tak dilibatkan oleh para penjajah dan para santripun bisa belajar dengan tenang. Makanya jika menyerang Belanda beliau mencari tempat yang jauh dari di Ndresmo.
Pihak Belanda sangat marah sekali karena cuma seorang saja kok bisa membunuh para tentaranya sangat banyak. Dan apalagi kebiasaan Sayyid Iskandar adalah, jika habis melawan rombongan tentara Belanda dan berhasil membunuh semuanya, maka beliau ambil senjata mereka. lalu beliau menyerahkan seluruh senjata-senjata itu pada seseorang yang berbadan gemuk penjual kue yang biasa disebut ‘Mbah Edhor’(makamnya juga disekitar makam beliau). Oleh Mbah Edhor senjata-senjata itu dibagi-bagikan ke para pejuang yang dipimpin paman Sayyid Iskandar sendiri yaitu Sayyid Baqer didaerah Geluran Surabaya.
Kemarahan Belanda sudah memuncak. Maka segera mereka membuat sayembara barang siapa yang bisa membunuh Sayyid Iskandar akan diberikan sebidang tanah dan uang. Banyak yang mendaftar, namun tak ada satupun yang bisa mengalahkan beliau. Hingga akhirnya tersebutlah seorang pribumi sendiri yang kebetulan sangat mengenal beliau. Dia sangat menginginkan hadiah itu. Dia cuma bisa memberitahukan kelemahan Sayyid Iskandar. mendengar akan hal itu, para Belanda sangat antusias mendengarnya. Orang pribumi (Jawa) itu mengatakan:
”Untuk membunuh beliau memang sulit. Tak ada yang tahu kelemahan kesaktian beliau. Hanya satu yang saya tahu, beliau itu sangat sayang dan menghormati ibundanya. tangkap ibunya! pasti beliau akan menyerahkan diri.”
Namun usul itu masih membuat orang-orang Belanda masih ragu. Mana mungkin mereka bisa menangkap ibunda Sayyid Iskandar, sedang beliau sedang dalam perlindungan Sayyid Imam Asy’ari Singonoto di Sidoarjo desa Singkil (jika tidak salah nama desanya). Sedangkan pemerintah Belanda yang berada di Sidoarjo saja sudah cukup dibikin repot juga dengan kesaktian Sayyid Imam tersebut. Akhirnya orang pribumi yang membuat usul tadi berjanji akan mengajak Sayyid Imam keluar dari rumahnya dengan tipu dayanya. Sebab dia sudah kenal baik dan sering bertemu dengan Sayyid Imam itu
Singkat kisah, dengan tipu daya yang sangat halus akhirnya orang pribumi itu berhasil mengajak Sayyid Imam keluar (entah alasan apa yang dia pakai). Maka para tentara Belanda berhasil menahan ibu Sayyid Iskandar. Bagaimana dengan Sayyid Ali Ashghor? saat itu beliau tak berada dirumah. Sedang bermain seperti layaknya anak kecil lainnya. semua Allah yang mengaturnya.
Mendengar ibundanya ditangkap, Sayyid Iskandar sangat marah sekali. Namun karena ancaman Belanda yang akan membunuh ibundanya jika tak menyerahkan diri, maka beliau segera berangkat untuk menyerahkan diri. Dihadapan para pemerintah Belanda beliau rela menyerahkan diri dan dihukum mati asal ibundanya dibebaskan. Dan satu sYarat lagi yang beliau sampaikan pada Belanda, yaitu semua syarat yang pernah ayahanda beliau (Sayyid Ali Akbar) ajukan pada kolonial Belanda agar ditepati.
Pemerintah kolonial Belanda menerima syarat yang diajukan beliau hanya di depan beliau saja. Sekedar tipuan maksudnya. Maka segera beliau di eksekusi mati. Namun sebelum di eksekusi mati, orang pribumi yang berkhianat tadi menambah informasi yang dia tahu tentang Sayyid Iskandar. Bahwa setelah ditembak, tubuh beliau harus dipotong menjadi dua dan dikuburkan di dua tempat. Maka informasi itu pun diterima baik oleh pihak Belanda. Eksekusi-pun dilaksanakan. Namun tak ada satu senjata pun yang mampu menembusnya. Berkali-kali mereka muntahkan peluru, namun tak membuat beliau luka. Sampai akhirnya Sayyid Iskandar berkata:
”Kalian akan bisa membunuhku jika kalian berjanji lagi melaksanakan semua tuntutan dan perjanjian yang kita sepakati.”
Akhirnya Belanda berjanji untuk itu. Dan beliaupun wafat. Lalu tubuh beliau dipotong menjadi dua bagian dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda.
Dasar memang Belanda si tukang tipu. Setelah berhasil membunuh Sayyid Iskandar, mereka mengingkari janji yang telah disepakati. ibunda Sayyid Iskandar tak dibebaskan. Malah berencana dipakai umpan untuk menangkap pejuang-pejuang lainnya dari keturunan Sayyid Ali Akbar. Sebenarnya orang pribumi yang berkhianat tadi sudah mengingatkan pemerintah Belanda agar segera menepati janji mereka pada Sayyid Iskandar. tapi mereka malah tertawa dan tak menghiraukannya.
”Buat apa menuruti janji pada orang yang sudah mati?.” Begitu kata mereka.
Tiga hari telah berlalu namun pihak Belanda tak kunjung membebaskan ibunda Sayyid Iskandar. Akhirnya terjadilah suatu hal yang menghebohkan. Ternyata suatu hari Sayyid Iskandar hidup lagi dan memporak-porandakan pasukan Belanda di segala tempat. Beliau langsung ke tempat markas dimana ibundanya ditahan.
”Sekali lagi saya katakan, sampai kapanpun jika kalian mengingkari janji kalian, maka aku akan menghabiskan kalian semua.”
Ancam beliau dihadapan para pemimpin pemerintah kolonial Belanda. Jelas hal itu membuat para tentara Belanda ketakutan. Itu adalah hal yang mustahil terjadi menurut mereka. Gimana engga’? wong tadinya sudah dibunuh dan dikuburkan kok sekarang muncul lagi?. Maka akhirnya para tentara Belanda membebaskan dan mengantarkan pulang ibunda beliau langsung dirumah beliau yang asal, yaitu desa Ndresmo.
Setelah itu Sayyid Iskandar di eksekusi lagi dan dipotong lagi tubuhnya menjadi 2 bagian. Yang satu bagian dikuburkan di Bungkul dan yang satunya lagi atas perintah beliau didaerah Koanyar Madura dipesisir pantai.
Setelah itu pemerintah kolonial Belanda tak berani lagi mengingkari janjinya pada Sayyid Ali Akbar dan Sayyid Iskandar, putranya.
Wallahu'alam

DOA NABI MUHAMMAD YANG DITANGGUHKAN ALLAH

 

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَقْبَلَ ذَاتَ يَومٍ مِنَ العَالِيَةِ، حتَّى إذَا مَرَّ بمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ دَخَلَ فَرَكَعَ فيه رَكْعَتَيْنِ، وَصَلَّيْنَا معهُ، وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيلًا، ثُمَّ انْصَرَفَ إلَيْنَا، فَقالَ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، فأعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً، سَأَلْتُ رَبِّي: أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالسَّنَةِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالغَرَقِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا

Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan, bahwa suatu hari Rasulullah tiba dari tempat yang tinggi. Ketika melewati masjid Bani Muawiyah (masjid al Ijabah), beliau masuk dan kemudian sholat dua rakaat. Mereka pun sholat bersama dan Nabi SAW memanjangkan doa kepada Allah lalu berpaling kepada mereka. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Aku memohon tiga perkara kepada Allah, maka Allah memberiku dua perkara dan menolak satu perkara.

Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan kekurangan pangan yang menyeluruh, maka Dia mengabulkannya, tidak membinasakan mereka dengan ditenggelamkan, maka Dia mengabulkannya, dan tidak menimpakan permusuhan di antara mereka, maka Dia menolaknya.” (HR Muslim) Halaman 171 Juz 8.

 

Niatan Perbuatan Buruk Akan di beri Dosa?

                                             

Tafsir Fathul Qadir karya Imam Syawkani juga mengutip riwayat dari Imam Muslim, Ahmad, dan lainnya:

وَقَدْ أَخْرَجَ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ، وَأَبُو دَاوُدَ فِي نَاسِخِهِ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ الْآيَةَ، اشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَثَوْا عَلَى الرُّكَبِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كُلِّفْنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْجِهَادُ وَالصَّدَقَةُ، وَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَا نُطِيقُهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا، بَلْ قُولُوا: سَمِعْنا وَأَطَعْنا غُفْرانَكَ رَبَّنا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ وَذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ أَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَثَرِهَا: آمَنَ الرَّسُولُ بِما أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ » الْآيَةَ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ نَسَخَهَا اللَّهُ فَأَنْزَلَ: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَها إِلَى آخِرِهَا. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ، وَمُسْلِمٌ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَالْحَاكِمُ، وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا نَحْوَهُ

Ketika turun ayat 284 surat al-Baqarah di atas, hal ini terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasul Saw. Lalu mereka datang menghadap Rasulullah Saw. dan bersimpuh di atas lutut mereka seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah dibebani amal-amal yang sudah memberatkan kami, yaitu salat, puasa, jihad, dan sedekah (zakat), sedangkan telah diturunkan kepadamu ayat ini dan kami tidak kuat menjalaninya.“

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh kaum ahli kitab sebelum kalian, yaitu: “Kami mendengarkan dan kami durhaka? “Tidak, melainkan kalian harus mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat, kami mengharapkan ampunan-Mu, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mulah (kami) dikembalikan.”

Setelah para Sahabat merasa tenang dengan ayat ini dan tidak mengajukan protes lagi, maka Allah menurunkan ayat berikut sesudahnya, yaitu firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,”dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)

Ketika mereka melakukan hal tersebut, lalu Allah me-nasakh (mengganti ketentuan hukum di atas) dengan firman-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah: 286).




15 Qaul Dalam Istilah Fiqh

 


1. QAUL QADIM
Qaul Qadim adalah pendapat imam Syafi'i sebelum hijrah ke Mesir, dan pendapat ini dianggap marjuh dan tidak boleh diamalkan kecuali dalam beberapa masalah.
2. QAUL JADID
Qaul Jadid adalah pendapat imam Syafi'i ketika berada di Mesir atau setelah hijrah dari Irak. Pendapat ini boleh diamalkan sebab dianggap Mu'tamad.
3. QAUL MU'TAMAD
Qaul Mu'tamad adalah pendapat yang disepakati oleh Imam An Nawawi dan Imam Rofi'i atau di tarjih (diunggulkan) oleh salah satu dari keduanya. Atau pendapat Imam Nawawi jika berbeda pendapat dengan Imam Rofi'i dan tidak ada murajjih atau tendensi penguat atau sama kuatnya.
4. QAUL MASYHUR
Qaul Masyhur adalah satu dari dua pendapat imam Syafi'i atau lebih yang berbeda, baik dari Qaul Qadim maupun Qaul Jadid, sementara pendapat yang lain dinilai lemah.
5. QAUL AZHAR
Qaul Azhar adalah atu dari dua pendapat imam Syafi'i atau lebih yang berbeda, baik dari Qaul Qodim maupun Qaul Jadid, sementara pendapat yang lain juga dinilai kuat.
6. QAUL MAZHAB
Qaul Mazhab adalah pendapat yang kuat yang mengisyaratkan terjadinya khilaf di kalangan ashab syafi'i dalam menyikapi pernyataan dua Qaul atau dua wajah dalam satu permasalahan. Sebagian masih memper-khilaf-kan apakah keduanya merupakan pendapat Imam Syafi'i atau ashab syafi'i terdahulu dan sebagian yang lain menegaskan salah satu dari keduanya. Sementara lawannya dianggap marjuh dan tidak boleh digunakan.
7. QAUL SAHIB
Qaul Sahib adalah pendapat yang kuat dari dua pendapatnya ashab syafi'i atau lebih, sementara muqabil (lawannya) dinilai kuat dan benar serta boleh digunakan.
8. QAUL ASHAH
Qaul Ashah adalah pendapat yang paling kuat dari dua pendapatnya ashab syafi'i atau lebih, sementara muqabil (lawannya) dinilai kuat dan benar serta boleh digunakan.
9. QAUL RAJIH
Qaul Rajih adalah pendapat yang kuat dalilnya. Ada kalanya lawannya lebih kuat atau tidak lebih dari sisi tidak sesuai dengan ijma', kaidah, nash atau qiyas jali.


 Wahai Ibu…

Hatiku runtuh sejak kepergianmu # Dunia terasa sempit apa yang tersisa tanpamu

Tak lagi kudengar suaramu memenuhi seisi rumah # Tak lagi kurasa hangat pelukanmu yang teduh

Engkaulah hidup dan setiap helaan nafasku adalah dirimu # Cintamu berjalan di jiwaku jejakmu abadi

Wahai Ibu, maafkan bila air mataku terlambat tumpah # Namun rasa sakit ini membakar meski tersembunyi

Di setiap sudut dunia ini kulihat bayangmu # Bersenandung lirih, “Ibuku… anakmu kini menjauh..”

Dulu engkau selalu berdoa, “Ya Tuhan, lindungilah anakku…” # Kini aku yang berdoa, “Ya Tuhan, peluklah ibuku dalam surga-Mu…”

Kasih sayang itu telah pergi… dan kini gema rindu menangis # Segala kata tak sanggup berkata… ibu telah tiada…

Kisah Seorang Pria dari Bani Israil Bernama Juraij

       Saat Juraij sedang shalat, ibunya datang memanggil. Dalam hatinya, Juraij berkata, ‘Apakah menjawab ibuku atau aku tetap shalat?’ Mak...