Pengorbanan Seorang Anak (Sayyid Iskandar) Kepada Ibunya

 Kisah Sayyid Iskandar Basyaiban Rela Dihukum Mati Untuk Selamatkan Ibunya

Sayyid Iskandar bin Sayyid Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban, yang sebagian jasadnya di makamkan di komplek pemakaman Sunan Bungkul ini mempunyai 5 bersaudara yakni:
1. Sayyid Imam Ghazali (Tawunan, Surabaya),
2. Sayyid Ibrahim (Kota Pasuruan),
3. Sayyid Badrudin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan, Surabaya),
4. Sayyid Abdullah (Bangkalan, Madura),
5. Sayyid Ali Ashghar (Sidoresmo).
Dari jalur nenek buyutnya beliau masih keturunan Raden Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati - Cirebon).
Sedangkan dari jalur ayah dan kakek buyutnya beliau masih keturunan Sayyid Abdurrahman bin Sayyid Umar bin Sayid Muhammad bin Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
Basyaiban adalah gelar warga Habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, (seorang Ulama terkemuka di Tarim, Hadramaut - Yaman, sebuah perkampungan yang masyhur sebagai gudangnya para wali dan auliya' Allah)
Diantara putra-putra Sayyid Ali Akbar, Sayyid Iskandarlah yang paling unik perjalanan hidupnya. beliau sangat sayang pada ibundanya hingga nyawa sebagai taruhan demi ibundanya.
Setelah kelahiran adik beliau yaitu Sayyid Ali Ashghor, beliau meneruskan perjuangannya dalam melawan penjajahan Belanda. seperti ayahandanya yang dulu yakni sangat merepotkan pihak kolonial Belanda, Sayyid Iskandar pun juga tak kalah merepotkan mereka. Beliau itu orangnya tinggi besar berkulit putih dan penyabar sesungguhnya. Tak banyak bicara, sangat ‘alim, zuhud dan wara’. Terkenal dengan ahli ilmu alat (nahwu, sharaf). berwajah Jawa-Arab. Namun meski penyabar, jika sudah berhadapan dengan penjajah Belanda yang dholim, maka tak ada ampun lagi. Beliau lebih suka melawan Belanda tanpa harus melibatkan keluarganya.
Tidak saudaranya juga tidak para santri-santrinya yang berada di Ndresmo. Beliau selalu tahu kapan ada rombongan Belanda yang akan melewati jalan yang beliau kuasai. Maka tak pernah ada satu orang Belanda pun kala itu yang bisa menghadapi beliau. Senjata apapun yang dibuat melawan beliau hampir dipastikan tak ada artinya.
Ada kelebihan dari beliau yang sudah bukan rahasia lagi. Beliau sangat cepat dalam bergerak. Jika orang biasa menempuh perjalanan dengan sejam, maka beliau sampai dalam waktu sangat sebentar. Beliau pernah membuat mata para Belanda tak bisa melihat pesantren ayahandanya yang ada di Ndresmo. Seakan pesantren itu hilang dan musnah.
Ada lagi yang beliau punya yaitu ilmu semacam rawerontek (bila tubuhnya dipotong maka kembali nyambung lagi). Nah jadi hanya seorang Sayyid Iskandar saja, sudah membuat para tentara Belanda kalang kabut. Kalaupun tertangkap, itu hanya semata-mata unsur kesengajaan dari beliau sendiri agar bisa semakin banyak yang beliau hadapi, dan itupun sudah menjadi strategi perang gerilya beliau untuk membantu mempermudah penyerangan para pejuang lain seperti pamannya Sayyid Baqer.
Meski banyak hal dan tugas yang beliau hadapi, namun beliau masih sering menyempatkan diri untuk pulang ke rumah yang saat itu ibundanya masih di Sidoarjo bersama adik paling kecilnya Sayyid Ali Ashghor. beliau dengan telaten ikut membantu ibundanya dalam mendidik Sayyid Ali Ashghor dalam hal ilmu agamanya. Jika sudah selesai, maka beliau berjuang lagi seperti biasanya. beliau jarang ke desanya sendiri, Ndresmo. Itu semata-mata agar desa suci itu tak dilibatkan oleh para penjajah dan para santripun bisa belajar dengan tenang. Makanya jika menyerang Belanda beliau mencari tempat yang jauh dari di Ndresmo.
Pihak Belanda sangat marah sekali karena cuma seorang saja kok bisa membunuh para tentaranya sangat banyak. Dan apalagi kebiasaan Sayyid Iskandar adalah, jika habis melawan rombongan tentara Belanda dan berhasil membunuh semuanya, maka beliau ambil senjata mereka. lalu beliau menyerahkan seluruh senjata-senjata itu pada seseorang yang berbadan gemuk penjual kue yang biasa disebut ‘Mbah Edhor’(makamnya juga disekitar makam beliau). Oleh Mbah Edhor senjata-senjata itu dibagi-bagikan ke para pejuang yang dipimpin paman Sayyid Iskandar sendiri yaitu Sayyid Baqer didaerah Geluran Surabaya.
Kemarahan Belanda sudah memuncak. Maka segera mereka membuat sayembara barang siapa yang bisa membunuh Sayyid Iskandar akan diberikan sebidang tanah dan uang. Banyak yang mendaftar, namun tak ada satupun yang bisa mengalahkan beliau. Hingga akhirnya tersebutlah seorang pribumi sendiri yang kebetulan sangat mengenal beliau. Dia sangat menginginkan hadiah itu. Dia cuma bisa memberitahukan kelemahan Sayyid Iskandar. mendengar akan hal itu, para Belanda sangat antusias mendengarnya. Orang pribumi (Jawa) itu mengatakan:
”Untuk membunuh beliau memang sulit. Tak ada yang tahu kelemahan kesaktian beliau. Hanya satu yang saya tahu, beliau itu sangat sayang dan menghormati ibundanya. tangkap ibunya! pasti beliau akan menyerahkan diri.”
Namun usul itu masih membuat orang-orang Belanda masih ragu. Mana mungkin mereka bisa menangkap ibunda Sayyid Iskandar, sedang beliau sedang dalam perlindungan Sayyid Imam Asy’ari Singonoto di Sidoarjo desa Singkil (jika tidak salah nama desanya). Sedangkan pemerintah Belanda yang berada di Sidoarjo saja sudah cukup dibikin repot juga dengan kesaktian Sayyid Imam tersebut. Akhirnya orang pribumi yang membuat usul tadi berjanji akan mengajak Sayyid Imam keluar dari rumahnya dengan tipu dayanya. Sebab dia sudah kenal baik dan sering bertemu dengan Sayyid Imam itu
Singkat kisah, dengan tipu daya yang sangat halus akhirnya orang pribumi itu berhasil mengajak Sayyid Imam keluar (entah alasan apa yang dia pakai). Maka para tentara Belanda berhasil menahan ibu Sayyid Iskandar. Bagaimana dengan Sayyid Ali Ashghor? saat itu beliau tak berada dirumah. Sedang bermain seperti layaknya anak kecil lainnya. semua Allah yang mengaturnya.
Mendengar ibundanya ditangkap, Sayyid Iskandar sangat marah sekali. Namun karena ancaman Belanda yang akan membunuh ibundanya jika tak menyerahkan diri, maka beliau segera berangkat untuk menyerahkan diri. Dihadapan para pemerintah Belanda beliau rela menyerahkan diri dan dihukum mati asal ibundanya dibebaskan. Dan satu sYarat lagi yang beliau sampaikan pada Belanda, yaitu semua syarat yang pernah ayahanda beliau (Sayyid Ali Akbar) ajukan pada kolonial Belanda agar ditepati.
Pemerintah kolonial Belanda menerima syarat yang diajukan beliau hanya di depan beliau saja. Sekedar tipuan maksudnya. Maka segera beliau di eksekusi mati. Namun sebelum di eksekusi mati, orang pribumi yang berkhianat tadi menambah informasi yang dia tahu tentang Sayyid Iskandar. Bahwa setelah ditembak, tubuh beliau harus dipotong menjadi dua dan dikuburkan di dua tempat. Maka informasi itu pun diterima baik oleh pihak Belanda. Eksekusi-pun dilaksanakan. Namun tak ada satu senjata pun yang mampu menembusnya. Berkali-kali mereka muntahkan peluru, namun tak membuat beliau luka. Sampai akhirnya Sayyid Iskandar berkata:
”Kalian akan bisa membunuhku jika kalian berjanji lagi melaksanakan semua tuntutan dan perjanjian yang kita sepakati.”
Akhirnya Belanda berjanji untuk itu. Dan beliaupun wafat. Lalu tubuh beliau dipotong menjadi dua bagian dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda.
Dasar memang Belanda si tukang tipu. Setelah berhasil membunuh Sayyid Iskandar, mereka mengingkari janji yang telah disepakati. ibunda Sayyid Iskandar tak dibebaskan. Malah berencana dipakai umpan untuk menangkap pejuang-pejuang lainnya dari keturunan Sayyid Ali Akbar. Sebenarnya orang pribumi yang berkhianat tadi sudah mengingatkan pemerintah Belanda agar segera menepati janji mereka pada Sayyid Iskandar. tapi mereka malah tertawa dan tak menghiraukannya.
”Buat apa menuruti janji pada orang yang sudah mati?.” Begitu kata mereka.
Tiga hari telah berlalu namun pihak Belanda tak kunjung membebaskan ibunda Sayyid Iskandar. Akhirnya terjadilah suatu hal yang menghebohkan. Ternyata suatu hari Sayyid Iskandar hidup lagi dan memporak-porandakan pasukan Belanda di segala tempat. Beliau langsung ke tempat markas dimana ibundanya ditahan.
”Sekali lagi saya katakan, sampai kapanpun jika kalian mengingkari janji kalian, maka aku akan menghabiskan kalian semua.”
Ancam beliau dihadapan para pemimpin pemerintah kolonial Belanda. Jelas hal itu membuat para tentara Belanda ketakutan. Itu adalah hal yang mustahil terjadi menurut mereka. Gimana engga’? wong tadinya sudah dibunuh dan dikuburkan kok sekarang muncul lagi?. Maka akhirnya para tentara Belanda membebaskan dan mengantarkan pulang ibunda beliau langsung dirumah beliau yang asal, yaitu desa Ndresmo.
Setelah itu Sayyid Iskandar di eksekusi lagi dan dipotong lagi tubuhnya menjadi 2 bagian. Yang satu bagian dikuburkan di Bungkul dan yang satunya lagi atas perintah beliau didaerah Koanyar Madura dipesisir pantai.
Setelah itu pemerintah kolonial Belanda tak berani lagi mengingkari janjinya pada Sayyid Ali Akbar dan Sayyid Iskandar, putranya.
Wallahu'alam

DOA NABI MUHAMMAD YANG DITANGGUHKAN ALLAH

 

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَقْبَلَ ذَاتَ يَومٍ مِنَ العَالِيَةِ، حتَّى إذَا مَرَّ بمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ دَخَلَ فَرَكَعَ فيه رَكْعَتَيْنِ، وَصَلَّيْنَا معهُ، وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيلًا، ثُمَّ انْصَرَفَ إلَيْنَا، فَقالَ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، فأعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً، سَأَلْتُ رَبِّي: أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالسَّنَةِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالغَرَقِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا

Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan, bahwa suatu hari Rasulullah tiba dari tempat yang tinggi. Ketika melewati masjid Bani Muawiyah (masjid al Ijabah), beliau masuk dan kemudian sholat dua rakaat. Mereka pun sholat bersama dan Nabi SAW memanjangkan doa kepada Allah lalu berpaling kepada mereka. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Aku memohon tiga perkara kepada Allah, maka Allah memberiku dua perkara dan menolak satu perkara.

Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan kekurangan pangan yang menyeluruh, maka Dia mengabulkannya, tidak membinasakan mereka dengan ditenggelamkan, maka Dia mengabulkannya, dan tidak menimpakan permusuhan di antara mereka, maka Dia menolaknya.” (HR Muslim) Halaman 171 Juz 8.

 

Niatan Perbuatan Buruk Akan di beri Dosa?

                                             

Tafsir Fathul Qadir karya Imam Syawkani juga mengutip riwayat dari Imam Muslim, Ahmad, dan lainnya:

وَقَدْ أَخْرَجَ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ، وَأَبُو دَاوُدَ فِي نَاسِخِهِ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ الْآيَةَ، اشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَثَوْا عَلَى الرُّكَبِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كُلِّفْنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْجِهَادُ وَالصَّدَقَةُ، وَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَا نُطِيقُهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا، بَلْ قُولُوا: سَمِعْنا وَأَطَعْنا غُفْرانَكَ رَبَّنا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ وَذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ أَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَثَرِهَا: آمَنَ الرَّسُولُ بِما أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ » الْآيَةَ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ نَسَخَهَا اللَّهُ فَأَنْزَلَ: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَها إِلَى آخِرِهَا. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ، وَمُسْلِمٌ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَالْحَاكِمُ، وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا نَحْوَهُ

Ketika turun ayat 284 surat al-Baqarah di atas, hal ini terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasul Saw. Lalu mereka datang menghadap Rasulullah Saw. dan bersimpuh di atas lutut mereka seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah dibebani amal-amal yang sudah memberatkan kami, yaitu salat, puasa, jihad, dan sedekah (zakat), sedangkan telah diturunkan kepadamu ayat ini dan kami tidak kuat menjalaninya.“

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh kaum ahli kitab sebelum kalian, yaitu: “Kami mendengarkan dan kami durhaka? “Tidak, melainkan kalian harus mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat, kami mengharapkan ampunan-Mu, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mulah (kami) dikembalikan.”

Setelah para Sahabat merasa tenang dengan ayat ini dan tidak mengajukan protes lagi, maka Allah menurunkan ayat berikut sesudahnya, yaitu firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,”dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)

Ketika mereka melakukan hal tersebut, lalu Allah me-nasakh (mengganti ketentuan hukum di atas) dengan firman-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah: 286).




15 Qaul Dalam Istilah Fiqh

 


1. QAUL QADIM
Qaul Qadim adalah pendapat imam Syafi'i sebelum hijrah ke Mesir, dan pendapat ini dianggap marjuh dan tidak boleh diamalkan kecuali dalam beberapa masalah.
2. QAUL JADID
Qaul Jadid adalah pendapat imam Syafi'i ketika berada di Mesir atau setelah hijrah dari Irak. Pendapat ini boleh diamalkan sebab dianggap Mu'tamad.
3. QAUL MU'TAMAD
Qaul Mu'tamad adalah pendapat yang disepakati oleh Imam An Nawawi dan Imam Rofi'i atau di tarjih (diunggulkan) oleh salah satu dari keduanya. Atau pendapat Imam Nawawi jika berbeda pendapat dengan Imam Rofi'i dan tidak ada murajjih atau tendensi penguat atau sama kuatnya.
4. QAUL MASYHUR
Qaul Masyhur adalah satu dari dua pendapat imam Syafi'i atau lebih yang berbeda, baik dari Qaul Qadim maupun Qaul Jadid, sementara pendapat yang lain dinilai lemah.
5. QAUL AZHAR
Qaul Azhar adalah atu dari dua pendapat imam Syafi'i atau lebih yang berbeda, baik dari Qaul Qodim maupun Qaul Jadid, sementara pendapat yang lain juga dinilai kuat.
6. QAUL MAZHAB
Qaul Mazhab adalah pendapat yang kuat yang mengisyaratkan terjadinya khilaf di kalangan ashab syafi'i dalam menyikapi pernyataan dua Qaul atau dua wajah dalam satu permasalahan. Sebagian masih memper-khilaf-kan apakah keduanya merupakan pendapat Imam Syafi'i atau ashab syafi'i terdahulu dan sebagian yang lain menegaskan salah satu dari keduanya. Sementara lawannya dianggap marjuh dan tidak boleh digunakan.
7. QAUL SAHIB
Qaul Sahib adalah pendapat yang kuat dari dua pendapatnya ashab syafi'i atau lebih, sementara muqabil (lawannya) dinilai kuat dan benar serta boleh digunakan.
8. QAUL ASHAH
Qaul Ashah adalah pendapat yang paling kuat dari dua pendapatnya ashab syafi'i atau lebih, sementara muqabil (lawannya) dinilai kuat dan benar serta boleh digunakan.
9. QAUL RAJIH
Qaul Rajih adalah pendapat yang kuat dalilnya. Ada kalanya lawannya lebih kuat atau tidak lebih dari sisi tidak sesuai dengan ijma', kaidah, nash atau qiyas jali.


 Wahai Ibu…

Hatiku runtuh sejak kepergianmu # Dunia terasa sempit apa yang tersisa tanpamu

Tak lagi kudengar suaramu memenuhi seisi rumah # Tak lagi kurasa hangat pelukanmu yang teduh

Engkaulah hidup dan setiap helaan nafasku adalah dirimu # Cintamu berjalan di jiwaku jejakmu abadi

Wahai Ibu, maafkan bila air mataku terlambat tumpah # Namun rasa sakit ini membakar meski tersembunyi

Di setiap sudut dunia ini kulihat bayangmu # Bersenandung lirih, “Ibuku… anakmu kini menjauh..”

Dulu engkau selalu berdoa, “Ya Tuhan, lindungilah anakku…” # Kini aku yang berdoa, “Ya Tuhan, peluklah ibuku dalam surga-Mu…”

Kasih sayang itu telah pergi… dan kini gema rindu menangis # Segala kata tak sanggup berkata… ibu telah tiada…

Jimat "Pengasihan Asikin"



Banten dulu adalah salah satu kesultanan di Nusantara yang tercatat pernah berpengaruh dari mulai Kerawang hingga negeri Malabar India di saat kepemimpinan Sultan Abul Mafakhir Abdul Qodir Kenari, penguasa Banten pertama yang diberi gelar Sultan dan kuat jalinan konektifitasnya dengan Kesultanan Turki Usmani di awal abad 17 Masehi, baik dalam konteks geo politik hingga kebudayaan menjadi saling pengaruh mempengaruhi.


Dalam rentang satu abad, luasnya pengaruh Banten atas wilayah Asia dikuatkan oleh kemampuan kepemimpinan beberapa sultan, antara lain Sultan Kenari dan Sultan Ageng Tirtayasa, jauh sebelum pudarnya pengaruh tersebut ketika kepemimpinan setelahnya.

Pengaruhnya tidak sekedar politis namun juga pada aspek spiritualitas Islam, terutama menyangkut pada perkembangan ilmu-ilmu Islam. Fakta sejarah terkait itu ada di Kasunyatan, saat abad 17 Masehi Kasunyatan adalah pusat spiritualitas sekaligus pusat pendidikan agama Islam terbesar se-Asia

Sultan Zainal Asikin

Sultan Zainal Asikin menjadi sultan Banten yang ke-12 setelah menggantikan Sultan Wasi Zainal Alimin, pamannya yang menjadi sultan yang ke 11. Sultan Zainal Asikin ini putera Sultan Syifa Zainal Arifin yang sebelumnya dikenal dengan Pangeran Gusti dan pernah dibuang ke Ceylon Srilanka oleh VOC Belanda tahun 1747 M.

Pada 1752 VOC Belanda telah mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Syifa Zainal Arifin menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi Zainal Alimin dan waktu yang bersamaan Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel memutuskan untuk mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya dan ditetapkan sebagai putra mahkota

Pribadi Sultan Banten ke-12 ini menghiasi bentang sejarah yang memukau, bukan hanya karena banyak drama-drama dan intrik-intrik politik di seputar kehidupannya sebelum ia naik tahta, tetapi juga sultan Banten yang memiliki kapasitas intelektual dan spiritualitas tinggi dalam waktu yang bersamaan. Eksistensinya sebagai sultan yang didukung oleh VOC sekaligus pembesar Banten lainnya adalah nilai tambah baginya dan di bawah pengaruhnya, Banten cenderung stabil.

Jimat Sultan

Dalam kitab Fathu al Muluk li Yashila Malik al Muluk ala Qoidat Ahl Suluki ( Manuskrip kitab nomor kode A. 111), Syaikh Abdulloh bin Abdul Qohar al-Bantani telah mendeskripsikan pribadi Sultan Zainal Asikin di dalam mukadimah kitabnya tersebut.

فإن بعض السادات والعرفان وأصحاب الأحباب من خلصان الإخوان والأصحاب من سيد السادة ملك المعظم المظفر المفخم المنصور بعناية مالك الغفار مولانا وسيدنا النسيب الحبيب الطاهرات الأصل والنسل من سلا(لة) بني هاشم وبني المطلب سلطان أبو النصر محمد عارف زين العاشقين السلطان بن السلطان المرحوم أبو الفتح شفاء زين العارفين خليفة الله تعالى في أرضه خليفة القادري والرفاعي وغيرهما قدس الله أسرارهم الجميع دام علاه

Artinya: Maka sesungguhnya sebagian orang-orang yang dimuliakan, ahli ilmu, sahabat-sahabat yang dikasihi dari beberapa saudara dan sahabat dari pemimpin yang mulia, diagungkan, tangguh, berkuasa yaitu tuan kita dan penguasa kita, seorang yang memiliki nasab keturunan mulia, yang terkasih, berasal dari keluarga leluhur suci, dari trah Bani Hasyim dan Bani Muthalib, yaitu Sultan Arif Zainal Asyikin, seorang sultan putra almarhum Sultan Syifa Zainul Arifin, seorang wakil Allah Ta’ala di muka bumi, sekaligus seorang wakil Tarekat Qadiriah dan Rifa’iah dan lain sebagainya, semoga Allah senantiasa mensucikan rahasia mereka, dan senantiasa melanggengkan keluhurannya.

Keseharian Sultan Zainal Asikin ini selain sebagai sultan Banten, ia adalah juga mursyid tarekat Qodiriyah dan tarekat Rifaiyah, serta di sela-sela waktunya menulis kitab yang berisi jimat-jimat dengan gaya penulisan huruf Arab isinya Jawa Banten. Jimat yang dimaksud adalah aji yang artinya kemuliaan dan amanat artinya kepercayaan yang diperoleh.

Dalam kitab jimat yang ditulis sultan Asikin itu selalu ada anjuran untuk mutih, yaitu proses mensucikan diri dari hal-hal yang syubhat dan yang haram, bukan dimaksud mutih itu puasa dengan konsumsi nasi putih dan air putih. Sebab Sultan Zainal Asikin menerapkan ayat Al-Qur'an dengan pendekatan budaya, ayat tersebut adalah ayat 88 dari surat al-Maidah. وَكُلُوْا مِمّا رَزَقَكُمُاللّٰهُحَلٰلًا طَيِّبًاۖ وّاتّقُوا اللّٰهَالّذِيْٓ اَنْتُمْبِهٖ مُؤْمِنُوْنَArtinya : Makanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu beriman Sang sultan yang alim itu selalu meluangkan waktunya untuk zikir tarekat, menulis kitab di Bale Kambang Tasik Kardi, tempat persinggahan atau peristirahatan sultan dan keluarganya, jaraknya kurang lebih 1 km arah selatan dari Keraton Surosowan. Di tahun 1596 tempat tersebut adalah tempat menerima tamu para pedagang dari Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. Makna Jimat Sultan Jimat dalam perspektif sekarang ini adalah benda atau tulisan yang dianggap punya tuah, khasiat atau untuk kesaktian, sementara jimat yang dimaksud Kanjeng Sultan Zainal Asikin adalah sikap atau prinsip hidup untuk memperoleh kemuliaan dengan indikasi ketenangan jiwa, pikiran baik, dan ketaatan totalitas atas perintah Allah S.w.t. Dalam kitab jimat tersebut, sultan ke-12 itu menuliskan pesan untuk masyarakat Banten agar tidak meninggalkan aqidah Islam, berpegang teguh pada al-Qur'an, dan anjuran taat pada perintah sultan. 
Sumber: Adipati khairu

Filosofi Batik Menurut Sunan Gunung Jati

    Tentang Martabat Pitu ajaran para wali (Sunan Gunung Jati 1448-1568) Alam ahadiyat, alam wahdat, alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil. Utawi hakikote ing jisim iku sulbi lan hakikote iku papat. Geni, angin, banyu, bumi. Utawi pekumpulan ing quran iku ing fatihah lan pekumpulane ing fatihah iku bismillah lan pekumpulane ing bismillah iku ing huruf lan pekumpulane ing huruf iku ing alif lan pekumpulane ing alif iku ing naqtu lan pekumpulane, ing naqtu iku ing naqot (Nuqot) ghoib. Menurut beberapa ulama, salah satunya adalah Syekh Nawawi al-Bantani dzuriyah Pangeran Sunyararas bin Maulana Hasanudin bin Sunan gunung Jati yg disampaikan melalui ceramahnya Gus Baha. al-Quraan diringkas di dlm fatihah, fatihah diringkas di dlm bismillah, bismillah diringkas di dlm huruf "Ba" Ba diringkas Ig di dalam titik. Menurut beberapa pengamal syatariyah di Cirebon, gabungan kata "Ba" & "Titik" inilah yg kemudian disebut "Batik" sehingga batik yg merupakan pakain khas Indonesia ini menurut sbegian pengamal tarekat syatariyah di Cirebon itu mengandung makna & filosofi mendalam, yakni mencakup seluruh isi al-Quran. Maka wajar saja jika dulu batik tidak sembarangan dibuat & dipakai. Hanya orang-orang keraton saja yg bisa memakai pakaian ini, itu pun yg sdh kelas spiritualnya tinggi. Ok tp berbeda dgn sekarang, batik tdk lagi dimaknai sbgmana di atas, sebab sobek kepaten obor dgn makna & filosofinya. Jd harus dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore, tegas Sunan Kalijaga. 

    


Dalam konteks martabat pitu, sejalan juga dengan apa yg dipaparkan oleh Ronggowarsito (Mas Bagus Burhan), pujangga Keraton Surkarta abad 19 dalam Serat Wirid Hidayat Jati bab Betal Muqoddas di bawah ini. Sajatine Ingsung. Anata mahligai ana sajeroning betal muqoddas. Iku umah anggone pesucen Ingsun, jumeneng ana ing khontole Adam. Kang ana sajeroning khontol iku prinsilan. Kang ana ing antarane prinsilan iku nutpah, yaiku mani, sajeroning mani iku madzi, sajeroning madzi iku wadi, sajeroning wadzi iku manikem, sajeroning manikem iku rahsa, sajeroning rahsa iku Ingsun. Ora nana Perigeran (Tuhan) anging Ingsun, dzat kang angaliputi ing kahanan jati. Jumeneng sajeroning NUKAT GHAIB tumurun dadi johar awal. Ing kono wahananing alam akhadiyat, wakhdat, wakhidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil (Martabat Pitu) dadi manusa sampurna yaiku sajatine sipat Ingsun.

Pengorbanan Seorang Anak (Sayyid Iskandar) Kepada Ibunya

  Kisah Sayyid Iskandar Basyaiban Rela Dihukum Mati Untuk Selamatkan Ibunya Sayyid Iskandar bin Sayyid Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman bin Say...