Sultan Hamengkubuwono IV wafat diracun secara klandestin?


 Sejarah mencatat, pada tanggal 6 Desember 1823, Pangeran Diponegoro mendapat kabar bahwa adik laki-lakinya, Sultan Hamengkubuwono IV, tengah mengalami kondisi yang mencemaskan. Maka segeralah sang pangeran berangkat dari Tegalrejo menuju Yogyakarta. Namun sayang, saat Pangeran Diponegoro tiba di keraton, Sultan Hamengkubuwono IV telah meninggal dunia. Suasana duka menyelimuti istana, dan setelah seluruh prosesi pemakaman berakhir, desas-desus mulai menyebar dalam senyap. Ya, sama seperti apa yang Pangeran Diponegoro rasakan, banyak warga Keraton Yogyakarta ketika itu beranggapan bahwa kemangkatan Sri Sultan yang sangat mendadak adalah suatu ketidakwajaran. Suara-suara saksi mata mengalir secara klandestin, menghasilkan berbagai asumsi di tengah ketidakstabilan pemerintahan keraton, namun masih dalam satu kesimpulan yang sama, bahwa ketika itu, hampir semua orang menduga bahwa Sultan Hamengkubuwono IV wafat karena diracun. Maka, apakah benar demikian? Kematian mendadak Sultan Hamengkubuwono IV menjadi salah satu peristiwa paling menggemparkan dalam sejarah Keraton Yogyakarta. Pada awal Desember, sang Sultan dikabarkan mengalami kondisi yang mencemaskan saat berlibur di pesanggrahan. Meski sempat mendapatkan penanganan, beliau akhirnya wafat dalam usia yang sangat muda, yakni sembilan belas tahun.

Kepergian sang Sultan memicu berbagai desas-desus di lingkungan keraton. Banyak pihak, termasuk Pangeran Diponegoro, merasa ada ketidakwajaran di balik kemangkatan tersebut dan menduga bahwa beliau wafat akibat diracun. Kecurigaan tersebut terutama diarahkan kepada Patih Danurejo IV, yang hubungannya dengan Pangeran Diponegoro saat itu sedang berada dalam ketegangan tinggi akibat berbagai polemik internal serta kebijakan penyewaan tanah kesultanan kepada pihak Eropa. mengenai hak-hak Pangeran Diponegoro di Keraton Yogyakarta selaku putra tertua beliau Selain itu, dokumen tersebut juga berisi berbagai perjanjian politik yang dibuat pada masa pendudukan Inggris, termasuk perjanjian rahasia tanggal 12 Juni 1812. Pemusnahan dokumen-dokumen tersebut oleh mendiang Sultan Hamengkubuwono IV membuat Pangeran Diponegoro marah besar, karena dokumen itu seharusnya menjadi pedoman penting bagi dewan perwalian dalam menjalankan pemerintahan kesultanan. Meskipun Pangeran Diponegoro berada dalam situasi yang penuh dengan ketegangan politik dan perselisihan internal di keraton, beliau tetap menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan bagi generasi penerus kesultanan.

Salah satu bentuk keterlibatan aktif beliau adalah dalam proses pendidikan Sri Sultan Hamengkubuwono V. Dalam upaya memberikan bimbingan spiritual yang mendalam, Pangeran Diponegoro secara khusus memilih Sayid Hasan, seorang pria berlatar belakang Arab dari bekas kantor dagang Belanda di wilayah India bagian barat. Peran utama Sayid Hasan adalah menjadi guru pembimbing bagi sang sultan muda, dengan tanggung jawab khusus untuk mengajari beliau membaca Al-Qur'an. Langkah ini mencerminkan komitmen Pangeran Diponegoro dalam menanamkan nilai-nilai religius dan penguasaan kitab suci kepada pewaris takhta di tengah dinamika kekuasaan yang tidak menentu pada masa itu.

Pangeran Diponegoro merasa terasing dan menolak perannya dalam dewan perwalian karena beberapa alasan utama Pemusnahan Dokumen Penting Pangeran merasa sangat marah saat mengetahui bahwa dokumen-dokumen berisi hak-haknya di keraton yang pernah dipinjam oleh mendiang Sultan Hamengkubuwono IV telah dimusnahkan. Hal ini membuatnya menolak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai wali. penghinaan saat dalam upacara penobatan Sultan Hamengkubuwono V, Pangeran merasa terhina karena dipaksa mengambil sumpah sebagai wali sultan. Perasaan ini membuatnya tidak mampu menandatangani dokumen pelantikan Konflik dengan Residen Belanda. Kebijakan Residen Smissert yang dianggap ceroboh dan sering bersikap tidak layak terhadap Pangeran Diponegoro membuat kerja sama antar wali sultan menjadi mustahil. Pangeran merasa hak-haknya sebagai pangeran senior dan putra sulung Sultan Hamengkubuwono III gagal dihormati oleh pemerintah kolonial. Perilaku Patih Danurejo IV tersebut dianggap sebagai sosok yang korup, ambisius, dan cenderung menjadi penjilat yang kerap membantu pemerintah kolonial demi kepentingan pribadinya. Ketegangan semakin meruncing karena Danurejo IV mendukung penuh kebijakan penyewaan tanah kesultanan dalam skala besar kepada pihak Eropa. Puncaknya terjadi saat prosesi Gerebeg Syawal pada 12 Juli 1820, ketika Pangeran Diponegoro secara terbuka mencela tindakan sang Patih yang menyewakan tanah di Rejo Winangun.

Penyalahgunaan Wewenang Patih Danurejo IV juga kerap menempatkan kerabatnya di posisi-posisi strategis dalam pemerintahan keraton tanpa pertimbangan yang tepat Namun, hingga saat ini belum ditemukan catatan resmi yang terverifikasi untuk memastikan penyebab kematian tersebut. Sejarawan seperti Profesor Peter Carey berpendapat bahwa kemangkatan beliau lebih disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, seperti kegemaran menyantap makanan berbumbu dan kelelahan fisik, yang memicu serangan jantung di usia muda. Setelah wafatnya Sultan Hamengkubuwono IV, keraton harus menghadapi masa transisi yang sulit. Pangeran Adipati Anom, yang saat itu masih berusia tiga tahun, segera dinobatkan sebagai penerus takhta. Pangeran Diponegoro kemudian diminta menjadi bagian dari dewan perwalian, namun konflik internal yang terus berlanjut dengan pihak keraton dan residen Belanda membuat posisi beliau semakin terasing. Peristiwa ini pun menjadi salah satu pemicu utama yang memperdalam kekecewaan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintah kolonial, yang pada akhirnya membawa dampak besar bagi stabilitas Jawa di masa depan.

Jejaring Ulama dan Sadah Alawiyah


Bagelen adalah sebuah kawasan di Barat Jogjakarta yang terkenal sebaga basis pejuang kemerdekaan khususnya dalam Perang Diponegoro. Bagelen dahulu disebut Pagelen. Pagelen sendiri merupakan perubahan dari Medanggele, yang berasal dari kata Medangkamulan, kerajaan yang konon pernah ada di wilayah ini. Bagelen merupakan kota kuno legendaris yang banyak melahirkan para ulama penyebar risalah kenabian.  
Kamis, 14/11 silam kami berkesempatan bersilaturrahmi kepada Habib Hasan bin Agil bin Muhammad bin Ali bin Hasan Munadi bin Ibrahim Ba’abud. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iman, Bulus, Gebang, Purworejo sekaligus Rois Syuriah PCNU Kabupaten Purworejo. Kami dijamu di ruang belakang rumah yang cukup di sederhana di tengah suasana pesantren yang begitu asri yang berada tak jauh dari pusat kota Purworejo. Habib Hasan Agil Ba’abud memiliki garis keturunan yang ikut serta berjuang dalam merebut kemerdekaan dari cengkraman Kolonial Belanda. Beliau adalah keturunan Habib Hasan Munadi Ba’abud, seorang dzurriyah Rasul dari Hadramaut, Yaman yang menikah dengan BRA (Bendoro Raden Ayu) Samperwadi (1750-1828) putri (GRM Sundoro) Sultan Hamengkubuwono II (1750-1828) dari garwa ampeyan (selir), bernama BMA (Bendoro Mas Ajeng Citrosari, yang bersal dari desa Beki, Purworejo.  Berikut nasab lengkap Habib Habib Hasan Agil Ba’abud. Beliau adalah putra Habib Agil bin Muhammad bin Ali bin Hasan al-Munadi bin Alwi Ba’abud bin Abdullah bin Muhsin bin Umar bin Muhsin bin Abdullah bin Abu Bakar bin Husein bin Ahmad bin Abu Bakar Ba’abud Kharbasyan bin Abdurrahman Ba’abud bin Abdullah Ba’abud bin Ali bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghayyur bin Muhammad Faqih al-Muqoddam bin Ali Ba’alawi bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra bin Rasulullah Muhammad SAW.  Selain Habib Hasan Munadi yang menganut tarekat Syatariyyah ini, seorang sayyid keturunan Hadrami yang juga menjadi menantu Hamengkubowono II adalah Habib Hasan bin  Thoha bin Yahya atau dikenal Raden Tumenggung Sumodoningrat yang makamnya terdapat di Kota Semarang. Habib Thoha inilah yang kelak mempunyai putra Habib Umar bin Hasan yang berdakwah di Indramayu yang menjadi guru dari Kyai-kyai Cirebon seperti Kyai Qoyim, KH. Sholeh Bendakerep, Kyai Said Gedongan, Kyai Abdul Jamil Buntet, dan lain-lain. Kelak dari Habib Umar inilah akan lahir keturunannya yang luar viasa yakni Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Yahya, Ra’is ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah, Ketua Umum MUI Jawa Tengah dan Ketua Forum Sufi Internasional. Zainul Milal Bizawie dalam Jejak Ulama Diponegoro mengatakan bahwa pernikahan ini terjadi ketika ayahanda Habib Hasan Munadi Ba’abud yakni Habib Alwi Ba’abud (1724-1815) mampu memenangkan sayembara mengobati Raden Putri Samparwadi yang saat itu sedang sakit. Hadiah dari sayembara tersebut adalah barangsiapa yang menyembuhkan penyakit sang putri, jika laki-laki maka akan menjadi suaminya, dan jika perempuan maka akan diangkat menjadi saudara Samparwadi. Singkat cerita, Sayyid Alwi Ba’abud mengikuti sayembara dan dengan izin Allah beliaupun mampu menyembuhkan penyakit sang putri. Namun karena usia beliau sudah 65 tahun, sedangkan Raden Ayu Samperwadi masih 14 tahun, maka Putri GRM Sundoro tersebut dinikahkan putranya Hasan Munadi (1764-1830) yang saat itu berusia 25 tahun untuk menikahi sang putri dan berlangsunglah pernikahan antara keturunan Arab dan keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1789. Hubungan Sayyid Alwi Ba’abud sebelumnya sudah terjalin ketika Sultan Sepuh (Sultan Hamengkubuwono I) diasingkan ke Ceylon, Srilanka oleh Inggris. Kedekatan itu kemungkinan karena Habib Alwi Ba’abud datang ke Yogyakarta sebagai utusan Sultan Usman (1754-1757) dari Kesultanan Turki Usman. Sebelumnya memang telah terjalin hubungan diplomatik (secara rahasia) antara Sultan Agung dengan Kesultanan Turki Usmani. Bahkan GRM Sundoro yang kelak akan berbesan dengan Habib Alwi Ba’abud pernah ke Turki tahun 1768-1771 untuk mempelajar janissary (pasukan infantri elit dan digdaya yang menjadi pengawal sultan dan merupakan pasukan perang utama dari Angkatan Darat Turki sejak abad ke-14 sampai awal abad ke -19).  Peter Carey dalam Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro, 1785-1855 menyebutkan kelak ketika terjadi Perang Diponegoro, pengasuh Janissary Turki sangat tampak. Diponegoro memasukkan pendukungnya akan mahir dalam berperang ke dalam resimen-resimen pilihan seperti bulko, turkio, dan arkionya Janissary Turki. Habib Alwi Ba’abud datang ke Jawa melalui jalur perdagangan Jepara dan Demak. Datang di tahun 1755 pada masa Pangeran Mangkubumi (1717-1792), putera Sultan Amangkurat IV dari garwo ampeyan bernama Mas Ayu Tejowati yang dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubowono I setelah perjanjian Giyanti yang memisahkan Kesultanan Mataram menjadi dua yakni Surakarta dan Jogjakarta. Kedatangan Habib Alwi Ba’abud selain sebagai saudagar kuda, juga disebut vsebagai seorang ulama dan tabib. Kedatanganya barangkali bersamaan dengan saudara sepupunya di Wonosobo, yakni Habib Hasyim bin Idrus bin Muhsin Ba’abud yang juga berasal dari Hadramaut. Dari pernikahan antara Habib Hasan Munadi dan Raden Ayu Samperwadi akan lahir empat keturunan. Diantaranya Ibrahim Ba’abud (1790-1850) yang bergelar RMH (Raden Mas Haryo) Madiokusumo, Raden Ayu Reksodiwiryo (istri Bupati Cokronegoro I, Bupati Purworejo Pertama), Ali Ba’abud yang bergelar Raden Mas Puspodipuro (Kakek Buyut Habib Hasan Agil Ba’abud) dan Raden Ayu Kertopati (Mengambil nama suaminya, Kertopati seorang Patih di Kutoarjo yang kelak akan hijrah ke Magetan dan merintis pesantren Takeran dengan nama Kyai Khalifah yang berputra Kyai Hasan Ulama’ yang menjadi cikal bakal Pesantren Sabilil Muttaqin dan merupakan leluhur dari Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN). Putra Pertama Habib Hasan Munadi yakni Habib Ibrahim Ba’abud adalah kawan dekat Pangeran Diponegoro putra dari Sultan Hamengkubuwono III. Keakraban Habib Ibrahim dengan Raden Mustahar (nama kecil Pangeran Diponegoro) terjalin saat keduanya diasuh oleh Ratu Ageng istri Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi). Selisih usia beliau dengan pahlawan yang memiliki nama lain yakni Raden Mas Ontorwiryo adalah 5 tahun lebih tua. Pangeran Diponegoro sendiri adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari garwa ampeyan atau selir.  Rijal Mumazziq , Rektor INAIFAS Jember mengatakan bahwa kitab yang dikaji oleh Pangeran Diponegoro (dan mungkin juga oleh Habib Ibrahim Ba’abud) adalah Topah. Perkiraan awal bahwa kitab itu adalah Tuhfatul Muhtaj-nya Imam Ibnu Hajar al-Haitami , atau Tuhfatut Thullab-nya Imam Zakaria al-Anshari atau mungkin Tuhfatul Muhtaj-nya Imam Al-Bujairami. Namun menurut Carey kitab Topah tersebut adalah kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Syekh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri, yang menjelaskan tentang ajaran “martabat tujuh” yang sesuai dengan pemikiran manusia Jawa manakala merenungkan Allah, dunia dan kedudukan manusia. Sebagai penganut tarekat Syatariyyah kemungkinan beliau belajar kepada Habib Hasan Munadi, ayahanda dari kawannya, Habib Ibrahim Ba’abud. Dari kedekatan inilah di kemudian hari keduanya akan bahu membahu dalam perang Diponegoro. Habib Ibrahim Ba’abud yang bergelar Pekih (Penghulu Kyai Haji) ini bersama Kyai Badruddin (pendukung Diponegoro lainnya) ditugaskan Pangeran Diponegoro untuk menjadi juru runding dengan Kolonel Clereens untuk membicarakan suatu pertemuan sebelum pertemuan Diponegoro dengan pihak Belanda pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang. Dalam pertemuan awal dengan Kolonel Cleerens itu Diponegoro menegaskan bahwa pada pertemuan 28 Maret tersebut Diponegoro adalah manusia bebas yang bergelar Sultan Ngabdulkamid Herucokro Kabirul Mukminin Sayyidin Panataga Jawa yang bersedia datang untuk memenuhi undangan Belanda dan duduk bersama untuk bersilaturahmi di Hari Raya Idul Fitri. Cleerens disaksikan oleh Habib Ibrahim dan Kyai Badruddin, menyepakatinya. Namun ketika pertemuan utama berlangsung, De Kock tidak menyebut Diponegoro dengan gelar yang dimintanya namun tetap dengan Pangeran Diponegoro. Padahal nama kepangeranan itu telah diberikan ke putra tertuanya ,bertema KPH (Kanjeng Pangeran Haryo) Diponegoro. Berarti, Belanda tidak pernah mengakui Diponegoro sebagai sultan pemimpin spiritual keagamaan (Islam) di tanah Jawa. Dan dengan tipu muslihatnya, Diponegoro kemudian ditangkap dan diasingkan ke Manado untuk selanjutnya dipindahkan ke Makassar dan wafat disana. Menurut Syamsu As dalam bukunya Ulama Pembawa Islam di Nusanatara, Habib Ibrahim Ba’abud atau Pekih Ibrahim juga ditangkap Belanda kemudian diasingkan di Penang, lalu dipindahlan ke Ambon, meninggal di Benteng Victoria dan dimakamkam di Batu Gajah, Ambon. Meski begitu banyak keturunanya. Namun banyak keturunannya lebih leluasa menggunakan nama jawanya, berbahasa Jawa, berpakaian jawa, bertata krama jawa, beradat istiadat jawa, dan menggunakan sistem kekerabatan Jawa.Sementara itu, Putra ketiga dari Habib Hasan Munadi, yakni Sayyid Ali Ba’abud kelak akan mengasuh Pondok Pesantren Al-Iman, Bulus, Gebang, Purworejo. Sebelumnya Pesantren Al-Iman telah dirintis oleh Syekh Ahmad Alim Bulus Basyaiban kelahiran Wonosobo yang pernah menjadi laskar Ki Ageng Gribing Jatinom Klaten dalam Perang Mataram-VOC di Batavia pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo Satriyo ing Alaga Sayyidin Panatagama Khalifatullah.Pada masa Perang Diponegoro, tepatnya 19 Nopember 1826, ketika terjadi perang besar di Bagelen antara Belanda dan Pangeran Diponegoro, Syekh Alim secara diam-diam tanpa diketahui kolonial Belanda menyertakan para santri untuk dijadikan prajurit. Ia menyiapkan para pejuang untuk ditempatkan di benteng pertahanan Magelang, Bagelen (dipimpin oleh Raden Tumenggung Djojomustopo yang dimakamkan di Sindurejan dan Raden Syamsiah-Penghulu Landrat Pangenjurutengah). Dalam peperangan tersebut pula oleh prajuruit dari Wonosobo dan Banyumas.Dikutip dari laman nu-jateng.com Mbah Ahmad Alim, konon dibuang Belanda ke daerah Bulus. Adapun penamaan kampung Bulus, lantaran konon Mbah Alim banyak menjumpai hewan bernama Bulus. Mbah Ahmad Alim dikenal sebagai seorang sufi. Konon beliau itu masih keturunan Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik, Jawa Timur.Saat ini pesantren Al-Iman yang Pesantren Al-Iman dulunya bernama al-Islamiyah ini tergolong pesantren tertua di Kabupaten Purworejo menjadi kawah candradimuka pejuang-pejuang islam masa depan. Tak kurang seribu santri belajar di pesantren yang diasuh Habib Hasan Agil, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Purworejo. Selain pesantren juga dibuka pendidikan formal seperti Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Ma’had Aly dan lain-lain.”Lambat laun pesantren yang didirikan itu banyak didatangi santri. Dengan berkembangnya zaman, kiai Ahmad Alim bahkan sempat memiliki santri yang cukup alim, dan di antaranya bahkan ada yang mashur, seperti Kiai Shaleh Darat, Semarang,” tuturnya.Setelah kiai Ahmad Alim wafat, tampuk kepemimpinan pesantren diteruskan oleh salah satu menantunya, bernama Raden Sayyid Ali. Dipilihnya menantu sebagai pemegang tampuk pimpinan pesantren dikarenakan sang menantu itu dikenal cukup alim dan masih keturunan sayyid. Alasan di balik itu, karena dilandasi keikhlasan. Ketika itu kira-kira terjadi pada masa Pangeran Diponegoro atau sekitar tahun 1800-an. Anak-anaknya Mbah Alim yang keluar dari Bulus, juga mendirikan pesantren yakni, Pondok Pesantren Loning, Pacalan, Tirip, Maron, Solotiang, dan Al-Anwar Purworejo.Dari Sayyid Ali, kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan anaknya, yakni Sayyid Muhammad, kemudian diteruskan Sayyid Dahlan. Kepemimpinan Kiyai Sayyid Dahlan berakhir sekitar tahun 1935-an. Setelah itu pondok menjadi vakum. Kevakuman itu akibat dari keboyongan (kepindahan) kiai ini ke daerah Kauman, dekat masjid Jami` Purworejo. Karena saat itu sang kiai diminta oleh Bupati Cakranegara pindah ke Kauman untuk menjadi imam dan kiai di Kauman. Setelah lama vakum dan tidak ada aktivitas, pesantren di Bulus itu dibangun atau dihidupkan kembali oleh Habib Agil Ba’abud sekitar tahun 1955 dan selanjutnya dilanjutkan oleh putranya Habib Hasan Aqil Ba’abud.Selain Habib Ibrahim Ba’abud dan Syekh Alim Bulus, terdapat pula sosok KH. Muhyiddin Rofi’ atau yang lebih dikenal sebagai Guru Loning. Beliau adalah putra dari Kyai Nur Iman Mlangi bin Raden Mas Suryo Putro yang bergelar Sultan Amangkurat IV (memerintah tahun 1719-1726).Dari jaringan Kyai Nur Iman dari Guru Loning ini terhimpun 3000 prajurit Bagelen dibawah kendali Pangeran Ontowiryo yang menyokong perjuanga Pangeran Diponegoro. Saking kuatnya perlawanan Bagelen, Kompeni Belanda sampai harus menggunakan taktik Benteng Stelsel, dengan membangun 25 buah benteng di kawasan Bagelen. Pada saat perang gerilya melawan Penjajah kolonial Belanda, Diponegoro juga pernah menginap di Masjid Santren Bagelen yang sekarang berlokasi di dusun Santren, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo. Masjid ini merupakan masjid kuno yang dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa dan bangunan bagian atapnya berbentuk tajuk tumpang satu tersebut. Masjid yang konstruksi kayu serta serta gonjo masjidnya persis Masjid Al-Aqsa Menara Kudus ini dibangun pada tahun 1618 Masehi.Ulama dari Bagelen lain yang bergabung bersama pangeran Diponegoro juga ada yang menyingkir ke desa Ringinagung, kediri dan membangun pesantren Mahir ar-Riyadh yaitu Kyai Nawawi. Dari pesantren Ringinagung ini akan belajar KH. Abdul Karim yang kelak akan mendirikan pondok pesantren Lirboyo Kediri.Setelah berdiskusi panjang tentang sejarah panjang perjuangan ulama dan santri di Bagelen, Habib Hasan Agil Ba’abud berpesan bahwa mempelajari sejarah bangsa Indonesia sangat penting khususnya sejarah perjuangan ulama’ dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Semenjak Islam hadir di Bumi Nusantara Habaib dan Kyai bahu membahu dalam memperjuangkan syiar islam Ahlussunnah wal-Jamaah. Jangan sampai kedua elemen ini dipisahkan karena hal ini telah menjadi skenario penjajah yang semenjak dulu selalu membenturkan Habaib dan Kyai.Menurut alumni Perguruan Islam Termas, Pacitan ini termasuk kelemahan orang jawa adalah tidak menisbatkan nasabnya kepada leluhurnya. Tidak seperti komunitas Hadrami, Batak, yang masih menyandang marga leluhur. Hal ini dikarenakan saat itu banyak masyarakat Jawa yang menyembunyikan nasabnya dikarenakan takut dikejar-kejar kolonial Belanda. Terlebih setelah terjadinya Perang Diponegoro yang menguras kas Kerajaan Hindia Belanda. Banyak laskar, keturunannya yang melarikan diri namun sesampai di tempat persinggahan mereka mendirikan pesantren seperti Mbah Hamimuddin (Pendiri Pondok Bungkuk Singosari), Mbah Abdussalam, Mbah Sehah (Pendiri Pondok Tambakberas), Mbah Lanah yang berputra KH. Ghozali (Pendiri Pondok Sarang), Mbah Hasan Besari yang kelak cucunya KH. Munawwir mendirikan Pondok Pesantren Al-Munawwir dan lain-lain. Menjalani penelusuran sejarah memang terkesan melelahkan dan menghabiskan biaya yang tak sedikit. Namun kita akan menemukan kepuasan tersendiri ketika mulai berhasil melacaknya khususnya sejarah perjuangan bangsa. Hal ini dirasa penting agar tidak “kepaten obor” (meminjam bahasa Habib Lutfi bin Ali Hasyim bin Yahya) yakni buta atau dibutakan oleh sejarah. 

Singosari, 10 Agustus 2026

Referensi
https://jaringansantri.com/author/sanad/

http


s://id.rodovid.org/wk/Orang:848042 

Kisah Seorang Pria dari Bani Israil Bernama Juraij

 


    Saat Juraij sedang shalat, ibunya datang memanggil. Dalam hatinya, Juraij berkata, ‘Apakah menjawab ibuku atau aku tetap shalat?’ Maka ibunya pun berdoa, ‘Ya Allah, jangan matikan dia sebelum melihat wajah wanita pezina.’ Kala itu Juraij sedang berada di tempat ibadahnya. Suatu ketika, seorang wanita menawarkan dirinya. Ia mencoba menggoda. Namun, Juraij menolaknya. Akhirnya, wanita itu tidur dengan seorang pengembala kambing dan melampiaskan nafsu dengannya. Lahirlah seorang bayi. Saat ditanya bayi itu dari siapa, sang wanita pun menjawab, ‘Dari Juraij.’ Akibatnya, orang-orang pun mendatangi Juraij dan menghancurkan tempat ibadahnya. Mereka memerintah Juraij turun dan mencaci makinya. Melihat demikian, Juraij pun mengambil wudhu lalu shalat. Usai shalat, ia menemui sang bayi lantas bertanya, ‘Siapakah ayahmu, hai bayi?’ Tak dikira, bayi pun bisa menjawab, ‘Pengambala kambing.’ Karena merasa salah tuduh, orang-orang Bani Israil berkata kepada Juraij, ‘Kami akan membangun tempat ibadahmu lagi dari emas.’ Namun, Juraij menolak, ‘Jangan, dari tanah saja.’” Dalam riwayat lain disebutkan, sang ibu datang menemui Juraij hingga tiga kali. Setiap kali datang dan memanggilnya, Juraij pasti sedang shalat dan beribadah. Alih-alih menjawab panggilan sang ibu, Juraij meneruskan shalatnya. Padahal, jika ibunya memanggil, Juraij mestinya menghentikan dahulu shalatnya. Sebab, menjawab panggilan ibu lebih utama daripada shalat sunat. Kendati shalatnya wajib, maka Juraij boleh mempersingkat shalat itu agar bisa menjawab panggilan ibunya. Namun, ia lebih mementingkan shalatnya ketimbang menjawab sang ibu. Sepertinya, Juraij telah merasakan bagaimana manis dan lezatnya bermunajat. Hingga ia tak mau melepaskan shalat untuk perkara apa pun. Pada hari kedua dan hari ketiganya, ibunda Juraij kembali mendatanginya. Namun, hasilnya sama seperti hari pertama. Hal itu membuat sang ibu kesal pada Juraij. Akhirnya, ia berdoa sesuatu yang kurang baik kepada Allah dan doanya terkabulkan.  Seperti dikabarkan Rasulullah saw, walaupun doa yang dipanjatkan seorang ibu kepada anaknya kurang baik, tetapi ia akan terkabulkan. Sebab, ketika Allah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi. Apa pun sebabnya. Saat itu pun Allah menciptakan sebabnya dengan mengirim seorang wanita pezina untuk menggoda Juraij. Cara itu diciptakan karena orang-orang Bani Israil selalu membicarakan kesalehan dan ibadah Juraij. Sang wanita ingin menghancurkan kasalehan dan ketakwaannya. Ia mengira jika dirinya menggoda Juraij, pasti Juraij akan tergoda. Akibatnya, harga dirinya terjatuh seperti juga yang dialami orang saleh yang lain. Ia menggoda Juraij dengan nafsu dan kecantikannya. Hadits yang lain menggambarkan bagaimana keindahan dan kecantikan wanita itu. Meski terus digoda wanita cantik, Juraij tak menoleh sedikit pun. Ia tetap tak tergoda. Ia asyik dalam shalat dan ibadahnya. Seakan-akan ia tak melihat wanita itu. Tidak pula ingin menyaksikannya. Akhirnya, si wanita melampiaskan nafsunya dengan seorang pengembala kambing dan hamil hingga melahirkan seorang bayi. Di sana Allah hendak menunjukkan kebesaran dan kekuasan-Nya. Bayi yang ditanya Juraij bisa menjawab dengan suara jelas dan bisa dipahami. “Ayahku adalah penggembala kambing,” ucapnya. Dari jawaban itu, orang-orang pun tahu betapa besarnya kejahatan yang dilakukan sang wanita terhadap Juraij, seorang hamba yang saleh dan ahli ibadah. Ternyata Juraij tidak seperti yang mereka kira. Ia bukan orang yang riya dan menipu. Ia bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sementara wanita itu adalah pembohong ulung yang telah menuduh keji kepada Juraij. Mereka sadar terlalu terburu-buru membenarkan tuduhan itu. Gegabah telah melukai perasaan Juraij dan mengancurkan bangunan tapanya. Mereka pun ingin menebus apa yang telah mereka lakukan. Karenanya, mereka menawarkan kepada Juraij untuk membangun kembali pertapaannya dengan emas atau perak. Tapi Juraij menolak tawaran itu. Ia memilih membangunnya kembali dari tanah seperti semula.  Allah pun mengabulkan doa ibunda Juraij. Dia mewujudkan keinginannya. Pada saat yang sama, Allah pun menyelamatkan Juraij berkat kesalahan dan ketakwaannya.

Penelitian Emik dan Etik

 


Perbedaan penelitian etik dan penelitian emik terletak pada sudut pandang yang digunakan untuk memahami suatu budaya, masyarakat, atau fenomena sosial.

AspekPendekatan EmikPendekatan Etik
Sudut pandangDari dalam (perspektif anggota masyarakat yang diteliti)Dari luar (perspektif peneliti)
TujuanMemahami makna, nilai, dan keyakinan menurut pelakuMenganalisis fenomena menggunakan konsep atau teori ilmiah
FokusPengalaman dan interpretasi masyarakat setempatPerbandingan, penjelasan, dan generalisasi antarbudaya atau antarkelompok
Peran penelitiBerusaha memahami cara berpikir informanMenafsirkan data berdasarkan kerangka teori yang digunakan
Contoh metodeWawancara mendalam, observasi partisipan, etnografiSurvei, analisis statistik, penggunaan kategori yang telah ditentukan

Contoh

Misalnya, seorang peneliti ingin mempelajari tradisi selamatan di sebuah desa.

  • Pendekatan emik: Peneliti bertanya kepada warga mengapa mereka melakukan selamatan, apa makna ritual tersebut, dan bagaimana mereka memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya menggambarkan pemahaman dari sudut pandang masyarakat itu sendiri.
  • Pendekatan etik: Peneliti menganalisis selamatan menggunakan teori antropologi atau sosiologi, misalnya sebagai bentuk integrasi sosial, penguatan solidaritas kelompok, atau mekanisme kontrol sosial. Analisis berasal dari kerangka ilmiah peneliti.

Kelebihan dan kekurangan

Pendekatan emik

  • Kelebihan:
    • Menghasilkan pemahaman yang mendalam dan sesuai dengan perspektif masyarakat.
    • Mengurangi risiko salah menafsirkan makna budaya.
  • Kekurangan:
    • Sulit digeneralisasikan ke kelompok lain.
    • Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membangun kepercayaan dengan informan.

Pendekatan etik

  • Kelebihan:
    • Memudahkan perbandingan antarbudaya atau antarkelompok.
    • Mendukung penyusunan teori dan generalisasi ilmiah.
  • Kekurangan:
    • Berisiko mengabaikan makna yang dipahami oleh masyarakat setempat.
    • Kategori analisis peneliti belum tentu sesuai dengan cara pandang masyarakat yang diteliti.

Kesimpulan

  • Emik = melihat fenomena dari sudut pandang orang dalam (insider), berfokus pada makna menurut masyarakat yang diteliti.
  • Etik = melihat fenomena dari sudut pandang orang luar (outsider), menggunakan konsep dan teori ilmiah untuk menganalisis serta membandingkan fenomena.

Dalam penelitian kualitatif, khususnya etnografi, kedua pendekatan ini sering dipadukan agar hasil penelitian tidak hanya mencerminkan pemahaman masyarakat, tetapi juga memberikan analisis ilmiah yang dapat dibandingkan dengan penelitian lain.

Pengorbanan Seorang Anak (Sayyid Iskandar) Kepada Ibunya

 Kisah Sayyid Iskandar Basyaiban Rela Dihukum Mati Untuk Selamatkan Ibunya

Sayyid Iskandar bin Sayyid Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban, yang sebagian jasadnya di makamkan di komplek pemakaman Sunan Bungkul ini mempunyai 5 bersaudara yakni:
1. Sayyid Imam Ghazali (Tawunan, Surabaya),
2. Sayyid Ibrahim (Kota Pasuruan),
3. Sayyid Badrudin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan, Surabaya),
4. Sayyid Abdullah (Bangkalan, Madura),
5. Sayyid Ali Ashghar (Sidoresmo).
Dari jalur nenek buyutnya beliau masih keturunan Raden Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati - Cirebon).
Sedangkan dari jalur ayah dan kakek buyutnya beliau masih keturunan Sayyid Abdurrahman bin Sayyid Umar bin Sayid Muhammad bin Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
Basyaiban adalah gelar warga Habib keturunan Sayid Abu Bakar Syaiban, (seorang Ulama terkemuka di Tarim, Hadramaut - Yaman, sebuah perkampungan yang masyhur sebagai gudangnya para wali dan auliya' Allah)
Diantara putra-putra Sayyid Ali Akbar, Sayyid Iskandarlah yang paling unik perjalanan hidupnya. beliau sangat sayang pada ibundanya hingga nyawa sebagai taruhan demi ibundanya.
Setelah kelahiran adik beliau yaitu Sayyid Ali Ashghor, beliau meneruskan perjuangannya dalam melawan penjajahan Belanda. seperti ayahandanya yang dulu yakni sangat merepotkan pihak kolonial Belanda, Sayyid Iskandar pun juga tak kalah merepotkan mereka. Beliau itu orangnya tinggi besar berkulit putih dan penyabar sesungguhnya. Tak banyak bicara, sangat ‘alim, zuhud dan wara’. Terkenal dengan ahli ilmu alat (nahwu, sharaf). berwajah Jawa-Arab. Namun meski penyabar, jika sudah berhadapan dengan penjajah Belanda yang dholim, maka tak ada ampun lagi. Beliau lebih suka melawan Belanda tanpa harus melibatkan keluarganya.
Tidak saudaranya juga tidak para santri-santrinya yang berada di Ndresmo. Beliau selalu tahu kapan ada rombongan Belanda yang akan melewati jalan yang beliau kuasai. Maka tak pernah ada satu orang Belanda pun kala itu yang bisa menghadapi beliau. Senjata apapun yang dibuat melawan beliau hampir dipastikan tak ada artinya.
Ada kelebihan dari beliau yang sudah bukan rahasia lagi. Beliau sangat cepat dalam bergerak. Jika orang biasa menempuh perjalanan dengan sejam, maka beliau sampai dalam waktu sangat sebentar. Beliau pernah membuat mata para Belanda tak bisa melihat pesantren ayahandanya yang ada di Ndresmo. Seakan pesantren itu hilang dan musnah.
Ada lagi yang beliau punya yaitu ilmu semacam rawerontek (bila tubuhnya dipotong maka kembali nyambung lagi). Nah jadi hanya seorang Sayyid Iskandar saja, sudah membuat para tentara Belanda kalang kabut. Kalaupun tertangkap, itu hanya semata-mata unsur kesengajaan dari beliau sendiri agar bisa semakin banyak yang beliau hadapi, dan itupun sudah menjadi strategi perang gerilya beliau untuk membantu mempermudah penyerangan para pejuang lain seperti pamannya Sayyid Baqer.
Meski banyak hal dan tugas yang beliau hadapi, namun beliau masih sering menyempatkan diri untuk pulang ke rumah yang saat itu ibundanya masih di Sidoarjo bersama adik paling kecilnya Sayyid Ali Ashghor. beliau dengan telaten ikut membantu ibundanya dalam mendidik Sayyid Ali Ashghor dalam hal ilmu agamanya. Jika sudah selesai, maka beliau berjuang lagi seperti biasanya. beliau jarang ke desanya sendiri, Ndresmo. Itu semata-mata agar desa suci itu tak dilibatkan oleh para penjajah dan para santripun bisa belajar dengan tenang. Makanya jika menyerang Belanda beliau mencari tempat yang jauh dari di Ndresmo.
Pihak Belanda sangat marah sekali karena cuma seorang saja kok bisa membunuh para tentaranya sangat banyak. Dan apalagi kebiasaan Sayyid Iskandar adalah, jika habis melawan rombongan tentara Belanda dan berhasil membunuh semuanya, maka beliau ambil senjata mereka. lalu beliau menyerahkan seluruh senjata-senjata itu pada seseorang yang berbadan gemuk penjual kue yang biasa disebut ‘Mbah Edhor’(makamnya juga disekitar makam beliau). Oleh Mbah Edhor senjata-senjata itu dibagi-bagikan ke para pejuang yang dipimpin paman Sayyid Iskandar sendiri yaitu Sayyid Baqer didaerah Geluran Surabaya.
Kemarahan Belanda sudah memuncak. Maka segera mereka membuat sayembara barang siapa yang bisa membunuh Sayyid Iskandar akan diberikan sebidang tanah dan uang. Banyak yang mendaftar, namun tak ada satupun yang bisa mengalahkan beliau. Hingga akhirnya tersebutlah seorang pribumi sendiri yang kebetulan sangat mengenal beliau. Dia sangat menginginkan hadiah itu. Dia cuma bisa memberitahukan kelemahan Sayyid Iskandar. mendengar akan hal itu, para Belanda sangat antusias mendengarnya. Orang pribumi (Jawa) itu mengatakan:
”Untuk membunuh beliau memang sulit. Tak ada yang tahu kelemahan kesaktian beliau. Hanya satu yang saya tahu, beliau itu sangat sayang dan menghormati ibundanya. tangkap ibunya! pasti beliau akan menyerahkan diri.”
Namun usul itu masih membuat orang-orang Belanda masih ragu. Mana mungkin mereka bisa menangkap ibunda Sayyid Iskandar, sedang beliau sedang dalam perlindungan Sayyid Imam Asy’ari Singonoto di Sidoarjo desa Singkil (jika tidak salah nama desanya). Sedangkan pemerintah Belanda yang berada di Sidoarjo saja sudah cukup dibikin repot juga dengan kesaktian Sayyid Imam tersebut. Akhirnya orang pribumi yang membuat usul tadi berjanji akan mengajak Sayyid Imam keluar dari rumahnya dengan tipu dayanya. Sebab dia sudah kenal baik dan sering bertemu dengan Sayyid Imam itu
Singkat kisah, dengan tipu daya yang sangat halus akhirnya orang pribumi itu berhasil mengajak Sayyid Imam keluar (entah alasan apa yang dia pakai). Maka para tentara Belanda berhasil menahan ibu Sayyid Iskandar. Bagaimana dengan Sayyid Ali Ashghor? saat itu beliau tak berada dirumah. Sedang bermain seperti layaknya anak kecil lainnya. semua Allah yang mengaturnya.
Mendengar ibundanya ditangkap, Sayyid Iskandar sangat marah sekali. Namun karena ancaman Belanda yang akan membunuh ibundanya jika tak menyerahkan diri, maka beliau segera berangkat untuk menyerahkan diri. Dihadapan para pemerintah Belanda beliau rela menyerahkan diri dan dihukum mati asal ibundanya dibebaskan. Dan satu sYarat lagi yang beliau sampaikan pada Belanda, yaitu semua syarat yang pernah ayahanda beliau (Sayyid Ali Akbar) ajukan pada kolonial Belanda agar ditepati.
Pemerintah kolonial Belanda menerima syarat yang diajukan beliau hanya di depan beliau saja. Sekedar tipuan maksudnya. Maka segera beliau di eksekusi mati. Namun sebelum di eksekusi mati, orang pribumi yang berkhianat tadi menambah informasi yang dia tahu tentang Sayyid Iskandar. Bahwa setelah ditembak, tubuh beliau harus dipotong menjadi dua dan dikuburkan di dua tempat. Maka informasi itu pun diterima baik oleh pihak Belanda. Eksekusi-pun dilaksanakan. Namun tak ada satu senjata pun yang mampu menembusnya. Berkali-kali mereka muntahkan peluru, namun tak membuat beliau luka. Sampai akhirnya Sayyid Iskandar berkata:
”Kalian akan bisa membunuhku jika kalian berjanji lagi melaksanakan semua tuntutan dan perjanjian yang kita sepakati.”
Akhirnya Belanda berjanji untuk itu. Dan beliaupun wafat. Lalu tubuh beliau dipotong menjadi dua bagian dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda.
Dasar memang Belanda si tukang tipu. Setelah berhasil membunuh Sayyid Iskandar, mereka mengingkari janji yang telah disepakati. ibunda Sayyid Iskandar tak dibebaskan. Malah berencana dipakai umpan untuk menangkap pejuang-pejuang lainnya dari keturunan Sayyid Ali Akbar. Sebenarnya orang pribumi yang berkhianat tadi sudah mengingatkan pemerintah Belanda agar segera menepati janji mereka pada Sayyid Iskandar. tapi mereka malah tertawa dan tak menghiraukannya.
”Buat apa menuruti janji pada orang yang sudah mati?.” Begitu kata mereka.
Tiga hari telah berlalu namun pihak Belanda tak kunjung membebaskan ibunda Sayyid Iskandar. Akhirnya terjadilah suatu hal yang menghebohkan. Ternyata suatu hari Sayyid Iskandar hidup lagi dan memporak-porandakan pasukan Belanda di segala tempat. Beliau langsung ke tempat markas dimana ibundanya ditahan.
”Sekali lagi saya katakan, sampai kapanpun jika kalian mengingkari janji kalian, maka aku akan menghabiskan kalian semua.”
Ancam beliau dihadapan para pemimpin pemerintah kolonial Belanda. Jelas hal itu membuat para tentara Belanda ketakutan. Itu adalah hal yang mustahil terjadi menurut mereka. Gimana engga’? wong tadinya sudah dibunuh dan dikuburkan kok sekarang muncul lagi?. Maka akhirnya para tentara Belanda membebaskan dan mengantarkan pulang ibunda beliau langsung dirumah beliau yang asal, yaitu desa Ndresmo.
Setelah itu Sayyid Iskandar di eksekusi lagi dan dipotong lagi tubuhnya menjadi 2 bagian. Yang satu bagian dikuburkan di Bungkul dan yang satunya lagi atas perintah beliau didaerah Koanyar Madura dipesisir pantai.
Setelah itu pemerintah kolonial Belanda tak berani lagi mengingkari janjinya pada Sayyid Ali Akbar dan Sayyid Iskandar, putranya.
Wallahu'alam

DOA NABI MUHAMMAD YANG DITANGGUHKAN ALLAH

 

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَقْبَلَ ذَاتَ يَومٍ مِنَ العَالِيَةِ، حتَّى إذَا مَرَّ بمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ دَخَلَ فَرَكَعَ فيه رَكْعَتَيْنِ، وَصَلَّيْنَا معهُ، وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيلًا، ثُمَّ انْصَرَفَ إلَيْنَا، فَقالَ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، فأعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً، سَأَلْتُ رَبِّي: أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالسَّنَةِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالغَرَقِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا

Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan, bahwa suatu hari Rasulullah tiba dari tempat yang tinggi. Ketika melewati masjid Bani Muawiyah (masjid al Ijabah), beliau masuk dan kemudian sholat dua rakaat. Mereka pun sholat bersama dan Nabi SAW memanjangkan doa kepada Allah lalu berpaling kepada mereka. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Aku memohon tiga perkara kepada Allah, maka Allah memberiku dua perkara dan menolak satu perkara.

Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan kekurangan pangan yang menyeluruh, maka Dia mengabulkannya, tidak membinasakan mereka dengan ditenggelamkan, maka Dia mengabulkannya, dan tidak menimpakan permusuhan di antara mereka, maka Dia menolaknya.” (HR Muslim) Halaman 171 Juz 8.

 

Niatan Perbuatan Buruk Akan di beri Dosa?

                                             

Tafsir Fathul Qadir karya Imam Syawkani juga mengutip riwayat dari Imam Muslim, Ahmad, dan lainnya:

وَقَدْ أَخْرَجَ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ، وَأَبُو دَاوُدَ فِي نَاسِخِهِ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلَّهِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ الْآيَةَ، اشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَثَوْا عَلَى الرُّكَبِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كُلِّفْنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْجِهَادُ وَالصَّدَقَةُ، وَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَا نُطِيقُهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا، بَلْ قُولُوا: سَمِعْنا وَأَطَعْنا غُفْرانَكَ رَبَّنا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ وَذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ أَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَثَرِهَا: آمَنَ الرَّسُولُ بِما أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ » الْآيَةَ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ نَسَخَهَا اللَّهُ فَأَنْزَلَ: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَها إِلَى آخِرِهَا. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ، وَمُسْلِمٌ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ، وَالْحَاكِمُ، وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا نَحْوَهُ

Ketika turun ayat 284 surat al-Baqarah di atas, hal ini terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasul Saw. Lalu mereka datang menghadap Rasulullah Saw. dan bersimpuh di atas lutut mereka seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah dibebani amal-amal yang sudah memberatkan kami, yaitu salat, puasa, jihad, dan sedekah (zakat), sedangkan telah diturunkan kepadamu ayat ini dan kami tidak kuat menjalaninya.“

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh kaum ahli kitab sebelum kalian, yaitu: “Kami mendengarkan dan kami durhaka? “Tidak, melainkan kalian harus mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat, kami mengharapkan ampunan-Mu, wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mulah (kami) dikembalikan.”

Setelah para Sahabat merasa tenang dengan ayat ini dan tidak mengajukan protes lagi, maka Allah menurunkan ayat berikut sesudahnya, yaitu firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,”dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285)

Ketika mereka melakukan hal tersebut, lalu Allah me-nasakh (mengganti ketentuan hukum di atas) dengan firman-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah: 286).




Sultan Hamengkubuwono IV wafat diracun secara klandestin?

  Sejarah mencatat, pada tanggal 6 Desember 1823, Pangeran Diponegoro mendapat kabar bahwa adik laki-lakinya, Sultan Hamengkubuwono IV, teng...