Wahai Ibu…

Hatiku runtuh sejak kepergianmu # Dunia terasa sempit apa yang tersisa tanpamu

Tak lagi kudengar suaramu memenuhi seisi rumah # Tak lagi kurasa hangat pelukanmu yang teduh

Engkaulah hidup dan setiap helaan nafasku adalah dirimu # Cintamu berjalan di jiwaku jejakmu abadi

Wahai Ibu, maafkan bila air mataku terlambat tumpah # Namun rasa sakit ini membakar meski tersembunyi

Di setiap sudut dunia ini kulihat bayangmu # Bersenandung lirih, “Ibuku… anakmu kini menjauh..”

Dulu engkau selalu berdoa, “Ya Tuhan, lindungilah anakku…” # Kini aku yang berdoa, “Ya Tuhan, peluklah ibuku dalam surga-Mu…”

Kasih sayang itu telah pergi… dan kini gema rindu menangis # Segala kata tak sanggup berkata… ibu telah tiada…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sultan Hamengkubuwono IV wafat diracun secara klandestin?

  Sejarah mencatat, pada tanggal 6 Desember 1823, Pangeran Diponegoro mendapat kabar bahwa adik laki-lakinya, Sultan Hamengkubuwono IV, teng...